Yesungiie oppa!

Yesungiie oppa!

Selasa, 17 Agustus 2010

The One I Love Part V

@@@
HyoRi masih gamang. Ia ingin membantu EunMi, sahabatnya tercinta. Tetapi disisi lain ia tak ingin melepas Yesung. Apakah aku harus melepas Yesung?? Apakah aku harus melepas Yesung demi EunMi-sahabatku?? Apakah aku harus melakukannya?? Batinnya terus bertanya-tanya. EunMi masih menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut HyoRi, Tetapi tampaknya EunMi sudah tak sabar menunggu. EunMi memeluk HyoRi dan menangis dalam pelukannya HyoRi.
"Aku tahu kau adalah sahabatku terbaikku.. Dan aku ingin kau mengerti, Kak Yesung adalah cinta pertama bagiku dan aku yakin kau juga mengerti betapa aku tak mau kehilangan cinta pertamaku..." HyoRi makin tak enak hati. EunMi memohon disela-sela isakannya. Air matanya HyoRi mulai menggenang. Bingung, melepas cinta demi sahabat atau melepas sahabat demi cinta.
"EunMi, sepertinya aku~" HyoRi masih terlihat bingung. EunMi masih menangis, bahkan isakannya makin keras. HyoRi makin bingung. Tak sampai hati ia melukai sahabatnya yang selalu membantunya kala ia mendapat kesulitan.
"Aku mohon..." EunMi memohon. HyoRi menyerah. Ia tak akan melukai sahabatnya sendiri. Air matanya mengalir membasahi pipinya yang mulai memerah karena cuaca dingin. Ia memeluk EunMi erat.
"Baiklah aku akan melepaskannya untukmu, Aku melepaskannya karena kau sahabatku.." Air mata HyoRi mengalir makin deras. EunMi berhenti menangis, tetapi isakannya masih terdengar. EunMi melepas pelukkannya dan memandang HyoRi dengan mata berbinar.
"Benarkah??" HyoRi menangguk untuk meyakinkannya. EunMi kembali memeluknya dengan senyum ceria. Dibalik punggung EunMi, HyoRi menangis tak bersuara.
@@@
HyoRi sedih. Disekolah, setiap kali ia melihat DongHae, ia menghindar. Dan tiap kali Yesung mendekat, ia menjauh. Walaupun sebenarnya ia ingin sekali berbicara dengan DongHae ataupun tertawa dengan Yesung.
"Annyeong!" Sapa Ryeowook. HyoRi tak membalas sapaannya. "Ada apa denganmu?" Tanya Ryeowook.
HyoRi menggeleng. "Ryeowook-ah, Bolehkah aku bertanya sesuatu??" Tanya HyoRi. Ryeowook duduk mendekat dengan wajah serius.
"Tanyakanlah.. kau mau tanya apa memangnya??" Wajah Ryeowook sangat serius.
"Sekarang tanggal berapa??" Seketika wajah Ryeowook berubah menjadi kecewa. Ia mendengus kesal karena mengira HyoRi akan menanyakan hal yang serius padanya.
"20 Agustus" Jawab Ryeowook dengan nada kesal. HyoRi terdiam. Kesedihan, tergambar jelas dalam wajahnya. "HyoRi, Kau kenapa?" Tanya Ryeowook khawatir. HyoRi tak menjawab. Ia menunduk. Ryeowook tak mengetahui bahwa HyoRi sedang menangis. Isakannya lembut, lembut sekali hingga Ryeowook tak dapat mendengarnya.
@@@
Pulang sekolah, HyoRi tak langsung pulang kerumahnya. Ia pergi kesuatu tempat. Tempat dimana ia bisa meluapkan segala sesuatu yang selama ini mengganjal hatinya.
Ia sampai ditempat tujuannya. Danau, Danau yang sepi. HyoRi berjalan kepinggir danau. Air matanya mengalir lagi. Ia ingat hari ini adalah hari ulang tahun Eomma-nya.
"Eomma, appa, aku telah kehilangan semua orang yang aku cintai..." HyoRi terisak. "Aku kehilangan eomma dan appa, lalu aku kehilangan cinta pertamaku, Kak DongHae, kini aku juga kehilangan penyemangat hidupku, Kak Yesung..." Isakannya makin keras. Air matanya terus mengalir dengan deras. "Apakah aku akan terus kehilangan orang-orang yang kucintai??"
Tiba-tiba hujan membasahi seluruh danau. HyoRi tak bergeming. Ia membiarkan hujan membasahi dirinya, membiarkan rasa panas dihatinya disiram oleh air hujan. Hujan makin deras. HyoRi tak juga berteduh. Ia masih berdiri dipinggir danau. Ia masih menangis sampai ia benar-benar merasa beban yang ada dihatinya hilang. Tiba-tiba seseorang memayunginya. Ia menoleh. DongHae berdiri membierkannya tersiram hujan agar dapat melindungi HyoRi dari hujan. HyoRi terdiam. Matanya memandang DongHae lekat. Tiba-tiba...
Brugggg~HyoRi tak sadarkan diri dipangkuan DongHae.
@@@
HyoRi tengah berbaring disebuah kamar. Ia masih belum sadarkan diri. Disana telah berdiri DongHae dan eomma-nya.
"Eomma, aku mencintai dia bukan SeoNa.." Ungkap DongHae sambil memandang HyoRi. DongHae eomma tersenyum sambil membelai rambut HyoRi.
"Aku tahu..."
"Kalau eomma tahu, eomma bisa membatalkan pertunanganku dengan SeoNa, kan?" DongHae eomma kembali tersenyum lembut. Tangannya masih membelai HyoRi.
"Apakah aku punya kuasa untuk membatalkan pertunanganmu? Keluarga kita sudah banyak berhutang dengan keluarganya, Jika tidak dengan pertunangan ini dengan apa kita akan membayar hutang budi kita kepada keluarga SeoNa?? Jika tidak dengan pertunangan ini, Kau pasti tahu apa yang akan terjadi pada perusahaan Ayahmu dan pada kondisi Ayahmu sendiri??" Jelas DongHae eomma. Air matanya menggenang. Begitu pula dengan DongHae. Perih rasanya mencintai orang yang tidak ia cintai.
"Tapi kita bisa kan membayarnya dengan yang lain, Uang atau sabagian saham perusahaan, bisa, kan??!" DongHae mencoba mempertahankan keinginannya. DongHae eomma memandang anaknya lekat.
"Dengan pertunanganmu saja Ayahmu belum juga pulih, nak.." Ujar DongHae eomma lirih. Air matanya akhirnya membasahi pipinya. DongHae terduduk lesu. Ia menyembunyikan wajahnya diatas kedua lututnya. Ia menangis, Menangis untuk cintanya, Menangis untuk Ayahnya, Dan menangis untuk penyesalannya sendiri.
@@@
HyoRi telah siuman. DongHae telah berada disampingnya. Setelah merapikan diri dan makan siang, Mereka bergegas pergi ke Rumah sakit. Tempat Ayah DongHae dirawat.
Mereka sampai diruangan ICU. Ayah DongHae masih terbujur lemas. Matanya tak kunjung terbuka sejak 5bulan yang lalu.
DongHae mendekati tempat Ayahnya berbaring. Ia mencium tangannya dan mulai menangis. HyoRi sedih melihat DongHae menangis. Tak ada yang dapat dilakukannya selain memeluknya dan memberikannya semangat. Mereka larut dalam tangisannya.
@@@
Mereka kembali kerumah DongHae. DongHae eomma meminta agar HyoRi menginap dirumahnya. HyoRi tak kuasa menolak. Hari ini ia menginap dirumah DongHae.
Saat makan malam. Mereka beranjak keruang makan untuk makan malam. HyoRi berjalan dengan canggung. Ia melihat seorang laki-laki yang terlihat akrab dengan DongHae. Ia penasaran.
"Kau Lee HyoRi??" Ujar laki-laki itu membuka pembicaraan.
"N~Ne.." HyoRi menangguk.
"HyoRi ini adalah kakakku, Leeteuk Hyung." DongHae memperkenalkan kakaknya. Leeteuk tersenyum sambil mengulurkan tangan. HyoRi menjabat tangan Leeteuk. HyoRi bingung karena Leeteuk tak juga melepas jabatan tangannya. DongHae menatap kakaknya tajam. Leeteuk hanya tertawa kecil.
"Tanganmu halus, wajahmu juga cantik.. Tak salah adikku menyukaimu.." Ujar Leeteuk. DongHae langsung menghadiahi tatapan tajam padanya. Leeteuk hanya mengelus unggung adiknya sambil tersenyum menggoda. HyoRi hanya tersenyum melihatnya.
Pagi harinya, HyoRi dan DongHae pergi kesekolah bersama. Tanpa sepengetahuan mereka, Seseorang dari kejauhan melihat mereka. Wajahnya memerah dan rahangnya mengeras karena menahan amarah.
@@@
SeoNa menghampiri DongHae dengan langkah geram.
"Apa kau ini tak tahu diri?? Kau ini tunanganku, kenapa kau masih saja mendekati cewek tidak tahu malu itu, hah?!" SeoNa berteriak. DongHae merasa tersinggung dengan oerkataan SeoNa.
"Kau sendiri, Apa kau tidak tahu diri?? Aku bukan tunanganmu, dan aku tidak mencintaimu.. Jangan hanya karena Orangtuamu menolong keluargaku, kau menganggap kita telah bertunangan. Kau ingat baik-baik kata-kata ini 'KITA TIDAK PERNAH BERTUNANGAN DAN AKU TIDAK PERNAH MENCINTAIMU!!!' ingat itu!" DongHae balas berteriak. SeoNa terkejut. Sekarang semua orang melihat mereka.
"Kau lihat saja balasan dari kata-katamu nanti, aku akan~"
"Aku tidak peduli..." Potong DongHae. DongHea berbalik dan meninggalkan SeoNa yang tak berkutik.
@@@
Pulang sekolah, DongHae dan HyoRi kembali mengunjungi Ayah DongHae dirumah sakit. Mereka sampai didepan rumah sakit.
"Kak, aku kebelakang dulu ya?" HyoRi meminta izin. DongHae tersenyum melihat kaki HyoRi yang terus bergerak karena ingin buang air kecil.
"Ya sudah, tapi aku langsung keruang Ayah dirawat. Nanti kau langsung kesana ya?" HoRi mengangguk dan langsung berlari mencari kamar kecil.
DongHae berjalan menuju ruang rawat Ayahnya. Ia terkejut karena pintu ruangan terbuka sedikit. Ia berjalan pelan dan perlahan masuk. Ia terkejut dengan apa yang ia saksikan didepan matanya. SeoNa sedang mencoba melukai Ayahnya.
"SEONA!!! Apa yang kau lakukan??" DongHae spontan berteriak. SeoNa terkejut.
"Bukankah aku sudah memperingatkanmu? tapi kau tak memperdulikannya.. Dan kau akan merasakan balasannya.." DongHae terlihat geram. SeoNa hanya tersenyum mengejek.
"Apakah kau juga yang membunuh orang tua HyoRi??" Tanya DongHae dengan perasaan geram. SeoNa tertawa.
"Tentu saja.. Kau tidak tahu?? Kan dari awal kau sudah kuperingati.. Kenapa kau tak juga nmenjauhi gadis itu? Hmm?" SeoNa kembali tertawa. DongHae makin geram.
"Kau ini wanita licik~" Tiba-tiba tanpa sepengetahuan mereka HyoRi telah berdiri disana dengan berlinangan air mata. DongHae dan SeoNa terkejut.
"Kak SeoNa.. Kau yang membunuh~" HyoRi berlari keluar ruangan dengan air matanya yang masih berjatuhan. DongHae bergegas mengejarnya tetapi SeoNa menahannya.
"Jangan mengejarnya, kalau kau~" 'Paaaaak' DongHae menampar SeoNa. SeoNa terkejut dan tanpa sadar melepaskan tangannya dari lengan DongHae. DongHae bergegas mengejar HyoRi.
@@@

Wait for The One I Love Part VI The last of story...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar